Kamis, 30 Desember 2010

'Wonderfull Indonesia', Slogan Baru Pariwisata 2011


Kamis, 30 Desember 2010 - 17:05 wib
Pasha Ernowo - Okezone

JAKARTA- Jika tahun lalu slogan pariwisata Indonesia diberi tajuk ‘Visit Indonesia 2010’, tahun depan slogan diganti menjadi ‘Wonderfull Indonesia’.

"Pada 1 Januari 2011 kita akan punya branding pariwisata baru, yaitu ‘Wonderful Indonesia’," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, saat jumpa pers Akhir tahun 2010 yang bertempat di Balairung Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (30/12/2010).

Dalam acara tersebut disebutkan ‘Wonderful Indonesia’ menggambarkan kesatuan berbagai elemen pariwisata di Indonesia. Elemen yang tercangkup di dalamnya adalah people, culture, national beauty, natural resources, dan opportunity investment.

Dirjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar, mengatakan kata ‘wonderful’ menunjukkan sesuatu yang luar biasa.

"Jadi Indonesia itu luar biasa. Luar biasa alamnya, budayanya, kulinernya, dan masih banyak lainnya," katanya.

Sapta menambahkan konsep branding baru ini sebenarnya sudah dipikirkan sejak lama dan akhirnya terwujud juga. (uky)


Wonderfull Indonesia, what a great idea!!!
Indonesia, kaya akan keragaman budaya dari berbagai etnis dan suku yang tak terhitung banyaknya, kaya akan sumber daya alam yang kata Koes plus tongkat kayu dan tali saja bisa jadi tanaman, kaya akan kuliner lezat dan unik yang terkenal dengan rempah-rempahnya yang membuat orang menelan air liur karenanya, dan kata orang-orang Indonesia penduduknya ramah-ramah.
Hanya butuh kerjasama dari semua unsur Negara ini, dari pemimpinnya sampai masyarakatnya agar kekayaan Indonesia yang luar biasa ini bisa memiliki “nilai jual”, bagaimana agar para wisatawan yang datang ke negeri ini bisa merasakan kesan yang luar biasa yang membuat mereka akan kembali lagi. Kalau sudah begitu hanya butuh sedikit promosi sehingga Indonesia menjadi salah satu Negara tujuan wisata dunia.  Wonderfull Indonesia!!!

Surat untuk Firman


Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!
[beritajatim.com]

Surat terbuka ini ditulis oleh seorang novelis,  Eddri Sumitra (E.S. Ito)  melalui blog pribadinya (www.itonesia.com). Surat ini ditujukan kepada Firman Utina Kapten timnas Indonesia. Melalui surat ini sang sastrawan ingin mengingatkan esensi yang sesungguhnya dari sepakbola itu sendiri yang saat ini sepertinya banyak ditunggangi oleh kepentingan politik serta pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan pribadi. Padahal sesungguhnya sepakbola tidak melulu soal menang atau kalah, tapi soal semangat, kerja keras & kegembiraan bersama. Salut buat timnas Indonesia, salut buat Eddri Sumitra untuk surat inspiratifnya.

Rabu, 08 Desember 2010

Banjir dan Angin Kencang Landa Pontianak


Tribunnews.com - Rabu, 8 Desember 2010 16:04 WIB


Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Mirna

TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK
- Sejak pagi hingga sekitar pukul 14.30 WIB, banjir setinggi lutut orang dewasa menggenangi beberapa kawasan di Kota Pontianak, Rabu (8/12/2010).

Tampak di jalan raya terjadi kemacetan. Banjir yang tinggi juga diikuti oleh angin yang kuat sehingga para pengendara motor maupun mobil sangat berhati-hati mengendarai kendaraan mereka.

Banyak kendaraan yang mati karena terendam air. Baliho dan pohon-pohon juga ikut tumbang ditiup angin sehingga arus lalu lintas jalan terhambat.

Tak ada seorangpun polisi atau pihak keamanan yang turun ke lapangan membantu menertibkan arus lalu lintas. Hanya warga-warga setempat yang membantu warga lain yang mengalami kesusahan baik mati motornya atau yang tidak mampu menahan kuatnya.

Seorang ibu yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan pasrah terjebak banjir. Ia khatiwatir dengan anak-anaknya di rumah. Karena saat ini rumah yang ia tinggal pergi, kabarnya mengalami banjir setinggi dua meter.


Pontianak banjir!!! dan rumah saya juga kebanjiran L
Hujan deras ditambah angin kencang yang melanda kota Pontianak tercinta mengakibatkan banjir yang lumayan tinggi (karena sebelumnya setahu saya belum pernah setinggi ini).
Setelah banjir surut masih saja terlihat genangan-genangan air dimana-mana, guess what ??!

Tentu saja karena drainase yang kacau, bayangkan saja dengan semakin banyaknya ruko-ruko yang dibangun tidak dibarengi dengan system drainase yang baik, lalu airnya harus mengalir kemana karena semua bagian di semen.
Akhirnya pihak terkaitlah yang harus segera turun tangan untuk mengatasi hal ini.
Mudah-mudahan tidak banjir lagi, capek bersih-bersih rumah saya, amin.

Ratusan Siswa Lomba Puasa Ngetweet & Facebookan


Kamis, 09/12/2010 08:01 WIB
Fino Yurio Kristo - detikinet


Washington - Bagi remaja modern, Facebook dan SMS sudah jadi semacam kebutuhan pokok. Sehari saja tak menggunakan dua hal itu mereka bisa kelabakan, apalagi selama seminggu. Namun ratusan pelajar ini merasa siap melakukan tantangan itu.

Ya, sekitar 400 pelajar, guru dan staf di Shorecrest dan Shorewood High Schools di Amerika Serikat, coba puasa memakai Facebook, ponsel, dan Twitter selama seminggu. Kecuali dalam keadaan darurat, perangkat tersebut tak boleh digunakan di sekolah maupun di rumah.

Proyek bertajuk 'The Social Experiment' ini diotaki oleh Trent Mitchell, guru di Shorecrest. Dia menilai anak-anak sekolah selalu saja sibuk utak-atik ponsel mereka ketimbang berinteraksi dengan para temannya.

"Saat berjalan antar ruang kelas, Anda akan melihat anak-anak berjalan sambil tertunduk dan SMS-an," ucapnya, yang detikINET kutip dari KomoNews, Kamis (9/12/2010).

Itu sebabnya dia membesut proyek ini. Dia minta para siswa tidak terhubung dengan perangkat teknologi selama beberapa waktu. Ternyata para siswa menyambutnya dengan senang.

Jika berhasil melakukan tantangan ini, beberapa hadiah sudah menanti, misalnya voucher Starbucks. Ketika dimintai pendapatnya, para siswa mengutarakan antusiasmenya.



"Kukira aku bisa melakukannya dan tak akan terlalu sulit. Namun jika memang sulit, aku mungkin harus mengevaluasi hubunganku dengan hal-hal itu. Ingin kubuktikan bahwa semua itu hanyalah barang tambahan dalam hidup, bukan sesuatu yang bikin ketagihan," ucap Matthews, pelajar setempat.

Sebagai ujian dalam eksperimen ini, pihak sekolah antara lain bakal memata-matai para siswa untuk membuktikan mereka benar-benar tak mengakses Facebook. SMS-SMS palsu pun akan ditebar dan jika para siswa membalasnya, berarti mereka gagal.
( fyk / ash )


Saat ini di Indonesia saja pengguna jejaring social (facebook dan twitter) sudah tak terhitung jumlahnya, apalagi di Amerika Serikat. Pengguna jejaring social memang didominasi oleh kalangan muda terutama pelajar dan mahasiswa. Apalagi jika kita berbicara mengenai ponsel, ponsel sudah tak terpisahkan dari kehidupan masa kini. Saat ini yang sedang trend adalah BBM (BlackBerry Massenger), sehingga ada pepatah baru yang mengatakan “yang dekat jadi jauh, yang jauh jadi dekat”, alasannya adalah orang yang berada di dekat anda akan terasa seperti orang yang jauh karena justru anda sedang asyik ber-BBM ria dengan orang yang jauh tetapi terasa sangat dekat lewat BBM, hehehhehe….

Fenomena  ini sepertinya  sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan masyarakat modern, toh harus diakui bahwa banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan dari penggunaan ponsel maupun jejaring social walaupun tak bisa dipungkiri bahwa dampak negatifnya juga tak kalah banyak. Semuanya kembali kepada si pengguna itu sendiri.

Mengenai wacana  guru dan staf di Shorecrest dan Shorewood High Schools di Amerika Serikat, yang mencoba puasa memakai Facebook, ponsel, dan Twitter selama seminggu, saya kira ini sangat baik, setidaknya untuk sedikit “mengingatkan” bahwa alat-alat komunikasi tersebut hanyalah “sarana” untuk bersosialisasi sehingga anda tidak akan “mati” jika tidak memilikinya

Rabu, 17 November 2010

"Hemat, Kirim Astronot Usia 60 Tahun ke Mars"


By Elin Yunita Kristanti - Rabu, 17 November

VIVAnews -- Pergi ke Mars jadi impian manusia, terutama mereka para ahli yang suka menjelajah angkasa. Apalagi planet merah itu adalah planet yang mendekati kondisi bumi, adan sudah diincar jadi koloni manusia jika suatu saat Bumi makin rusak dan tak layak huni lagi.
Mewujudkan impian itu memang bukan pekerjaan mudah. Selain soal teknologi yang belum memadai,  misi ini juga terkendala soal dana.
Untuk meminimalisasi biaya yang dikeluarkan, sejumlah ilmuwan menyarankan agar perjalanan ke Mars dilakukan sekali jalan. Artinya, begitu pergi ke sana, jangan kembali lagi ke bumi.
Para ilmuwan menyatakan, kolonialisasi Mars akan makin cepat diwujudkan dan murah jika para astronot berperilaku seperti para pemukim pertama di Amerika Serikat. Mereka tak pernah berharap bisa pulang.
Itu adalag, "Poin utama, agar eksplorasi Mars terwujud," kata Dirk Schulze-Makuch, profesor dari Washington State University yang menerbitkan artikel kontroversial, seperti dimuat Daily Mail, Rabu 17 November 2010.
Ia mengusulkan misi diawali pengiriman dua orang astronot berusia 60 tahunan yang akan terbang dalam dua pesawat berbeda -- pesawat ini juga berfungsi sebagai tempat tinggal mereka di Mars. Selanjutnya, kapal koloni dan perbekalan akan disusulkan kemudian.
Publikasi artikel ini kurang dari sebulan setelah NASA keceplosan sedang menginvestigasi kemungkinan kolonialisasi manusia di planet lain dalam proyek ambisius yang dinamakan 'Hundred Years Starship'.
Sementara, ilmuwan lain, Paul Davies, fisikawan dari Arizona State University berargumen, manusia harus mengkoloni planet lain untuk mengantisipasi malapetaka di Bumi.
"Sebaiknya yang dikirimkan orang berusia 60 tahun atau sekitar itu."
Alasannya, misi ke luar angkasa pasti akan mengurangi umur seseorang -- baik akibat kurangnya perawatan medis maupun paparan radiasi dalam jumlah besar.
Radiasi juga dapat merusak organ reproduksi, sehingga pengiriman orang di usia subur bukanlah ide yang baik.
Sementara, untuk perjalanan sekali jalan, diperkirakan bisa memotong anggaran hingga 80 persen.
Namun, baik Davies maupun Schulze-Makuch menyatakan penting artinya untuk menyadari bahwa ini bukan 'misi bunuh diri'.
Tapi, "astronot di Mars akan tinggal di sana seumur hidupnya, menjadi pionir dari kolonialisasi manusia secara permanen di planet merah." Untuk itulah, profil psikologis astronot, termasuk intensitas komunikasi dengan Bumi jadi faktor penting.
Gagasan sekali jalan ini mendapat tentangan dari sejumlah pihak. Termasuk, mantan astronot Apolo 14, Edgar Mitchell. "Ini prematur. Kita belum siap untuk menjalani hal seperti ini."
NASA pun tak setuju dengan hal ini. "Kami ingin astronot bisa kembali ke Bumi."

My Opinion
Menurut saya ini adalah sebuah wacana yang cukup “berani” kalau tak mau dibilang “gila”, hehehe. Jika dilihat dari pemaparan diatas, dari segi anggaran dan kesehatan memang lebih baik jika mengirimkan orang di usia lanjut, dan mungkin saja jika hal ini benar-benar direalisasikan maka akan ada banyak ‘astronot sukarelawan’ yang bersedia, karena toh pergi ke Mars pastilah impian mereka juga.
Namun dalam hal ini ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan kembali, misalnya dalam kehidupan social masyarakat, bagaimana dengan pihak keluarga yang ditinggalkan, apa dampak psikologis bagi astronot tersebut dan lain-lain.
So, ini memang hanya sekedar wacana saja, bahkan NASA pun tidak setuju dengan hal ini. Kita lihat saja nanti…..